Jumlah Wisman Melonjak, Lama Tinggal justru Turun
Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) Bali dari tahun ke tahun menunjukkan pertumbuhan yang positif. Namun di balik itu lama tinggal mereka (length of stay) di Bali justru mengalami penurunan.
Lama tinggal rata-rata wisman di Pulau Dewata tahun 2009 tercatat mencapai 8,75 hari. Angka tersebut menurun signifikan dibanding tahun sebelumnya yang rata-rata mencapai 13,6 hari. Hal tersebut berpengaruh pada pengeluaran yang berkurang dari 148,40 dolar AS per orang setiap hari pada 2008 menjadi hanya 136,90 dolar pada 2009.
Menurunnya lama tinggal dan pengeluaran wisatawan asing di Bali itu, diakui para pelaku pariwisata. Ini menyebabkan pariwisata Bali dari segi mutu menurun, kendati dari segi jumlah wisman ke Bali terus meningkat.
Merosotnya mutu kunjungan wisman ke Bali, berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada usaha dan jasa pariwisata.
Pergeseran mutu yang terjadi tidak hanya terlihat pada length of stay mereka, namun juga daya beli yang terus menurun. Bali yang mengandalkan pengembangan sektor pariwisata jelas merasakan kondisi ini, terutama para pedagang barang seni seperti lukisan, patung dan produk seni lainnya. Sebab, wisatawan yang dulunya royal dalam membelanjakan uangnya kini mulai melakukan hitung-hitungan.
Peningkatan yang belum dibarengi kualitas lama tinggal serta dana yang dihabiskan (spending money) yang tinggi yang terjadi akhir-akhir ini, tidak terlepas pada imbas krisis finansial global yang belum sepenuhnya pulih.
Merosotnya daya beli wisman di Bali juga terlihat pada ekspor berbagai jenis hasil kerajinan Bali. Selama 2009 ekspor benda seni hanya bernilai 262,90 juta dolar AS, turun 1,92 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 268,05 juta dolar AS.
Turunnya mutu wisatawan ke Bali diakibatkan oleh pengembangan pariwisata Bali yang tidak memiliki karakter jelas, sesuai dengan potensi yang dimiliki seperti religi, budaya dan alam, dinilai para pemerhati pariwisata memicu turunnya kualitas wisatawan ke Bali.
Pengembangan pariwisata di Bali harus dilihat secara holistik. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, keamanan dan lingkungannya. Jangan hanya terpaku pada gemercik dolar. Terlebih konsep yang sudah ada di Bali, yakni Tri Hita Karana harus bisa diimplementasikan dalam pengembangan pariwisata.
Sementara itu, destinasi wisata di Bali yang dirancang di Denpasar, Kuta, Jimbaran, Nusa Dua, Tanah Lot, Sanur, tidak perlu lagi ditambah untuk menarik serta memperbaiki mutu wisatawan ke Bali. Yang diperlukan adalah meningkatkan kualitas wisatawan yang datang dengan mempertahankan religi, budaya dan alam sebagai karakter pariwisata. Bila destinasi wisata beserta fasilitasnya yang ditambah di Bali, ke depan kondisi Bali tidak ubahnya akan seperti Singapura.
Wisatawan ke Bali beberapa tahun terakhir memang mengalami peningkatan, namun pedapatan yang dihasilkan dari satu wisatawan seperti spending money, lama tinggal masih jauh dibandingkan negara Malaysia. Ini dikarenakan Bali kehilangan karakter atau jati diri pariwisata yang ditonjolkan sebagai branding.