VoA Meningkat, Bali hanya Tukang Pungut
Meningkatnya pendapatan Visa on Arrival (VoA) Bali seiring dengan tingginya kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Dewata, dikatakan Ketua DPD Asita Bali, tidak mempengaruhi pendapatan Bali. Nilai VoA yang mencapai ratusan milyar setiap tahunnya dinikmati pemerintah pusat bukan Bali.
“Adanya fasilitas VoA memang memudahkan wisatawan ke Bali. Namun di satu sisi Bali selama ini hanya jadi tukang pungut hasilnya sepenuhnya disetor ke pusat,” ucap Ketua Asita Bali ini di Kuta.
Teriakan Pemprop Bali yang sebelumnya menuntut bagi hasil VoA, dinilainya, hangat-hangat tahi ayam. Terbukti, sejak digaungkan masalah bagi hasil tersebut hingga kini tidak kunjung tuntas.
“Seharusnya pemerintah maupun DPRD di Bali terus mendesak pusat segera menuntaskan permasalahan ini. Sebab, Bali sudah sewajarnya menikmati hasil VoA yang dipungut dari wisatawan untuk perbaikan infrastuktur di Bali . Paling tidak, Bali mendapat 20 persen dari total VoA yang masuk,” ujarnya.
Ia menyarankan, pemerintah Bali mamanfaatkan DPD yang duduk di pusat untuk terus memperjuangkan apa yang seharusnya sudah menjadi hak Bali .
Selain menuntut bagi hasil VoA, ia juga menyarankan pemerintah menerapkan pembayaran VoA secara online untuk mengantisipasi antrean panjang dan memberikan pelayanan lebih nyaman kepada wisatawan yang datang. “Sekalian datang ratusan hingga ribuan orang dengan atrean panjang, ini kan menimbulkan persoalan. Dengan online wisatwan tidak perlu ngantre lagi,” tandasnya.
Tahun 2007 jumlah pemasukan VoA di Bandara Ngurah Rai Bali mencapai angka Rp 207 milyar, tahun 2008 nilainya mencapai Rp 250 milyar. Sementara hingga September 2009 angkanya mencapai Rp 243 milyar.