Promosi ke Luar Negeri hanya Bebani Anggaran
Promosi pariwisata langsung ke luar negeri (LN) yang dilakukan pemerintah tidak efektif. Promosi yang selama ini dilakukan hanya sebagai ajang jalan-jalan dan pemborosan saja.
“Promosi seperti rombongan sirkus. Saya sudah bertemu dengan sejumlah dubes. Mereka (dubes) menyatakan jika promosi yang dilakukan hanya menyusahkan para dubes,” ujar Gubernur Bali, Made Mangku Pastika di Bali.
Dikatakan, sering kali yang datang ke promosi di luar negeri adalah orang Indonesia atau orang-orang yang bekerja di Kedubes. “Saya tidak mau terlalu banyak orang, masa promosi ke luar negeri 10 orang. Cukup 3 orang dan dipilih orang-orang yang memang berkompeten,” ungkapnya.
Media internet yang makin maju, baginya merupakan sarana yang lebih efektif untuk berpromosi. “Kita akan mengoptimalkan web yang kita miliki. Orang asing jika mau ke luar negeri akan mencari tempat akomodasi melalui internet. Promosi seperti ini tentu jauh lebih efektif dan murah,” katanya.
Promosi melalui televisi internasional seperti CNN juga tengah dijajaki. “Promosi di media internasional memang sangat penting, namun biayanya sangat besar. Untuk itu memang harus dihitung cost dan benefit -nya. Biaya yang dikeluarkan tidak seimbang dengan yang didapat, tentu harus dipikirkan dengan matang,” katanya.
Sinergi instansi-instansi pemerintahan untuk promosi harus segera dilakukan. “Kita tidak mau menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kepentingan yang tidak berguna,” ujarnya.
Namun, dia menyatakan tidak segan-segan memberikan anggaran lebih jika memang diperlukan. ” High and tourism adalah sasaran pembangunan pariwisata Bali,” katanya.
Bali sebagai destinasi pariwisata dunia dijual murah. Banyak persoalan yang dihadapi oleh Bali. Infrastruktur, aturan yang belum jelas serta praktik ilegal sejumlah industri adalah persoalan yang harus segera diselesaikan.
Praktik jual beli kepala menjadi persoalan yang menjadi target Mangku Pastika ke depan. Dikatakan, ada biro perjalanan di Cina yang menjual paket liburan ke Bali hanya dengan 300 dolar AS. “Praktik seperti inilah yang akan merusak pariwisata Bali dan memicu terjadinya praktik jual beli kepala,” katanya.