Pertumbuhan Pariwisata Bali Ibarat Kacang Lupa Kulitnya

Pulau Dewata Bali dengan keunikan budaya dan keindahan alamnya telah menarik perhatian dunia sejak masa penjajahan Belanda (VOC) ratusan tahun lalu. Dan sekian ribu pulau yang ada di wilayah nusantara, pulau Dewata Bali yang dipilih oleh VOC untuk ditetapkan sebagai kawasan pariwisata pada waktu itu. Oleh penguasa VOC pulau Bali ditetapkan sebagai cagar budaya yang harus dilindungi dari pengaruh budaya asing. Bahkan lebih ekstrim lagi VOC menetapkan aturan pada saat itu, bahwa agama apapun boleh disebarkan di seluruh wilayah jajahan Hindia Belanda kecuali Bali.

Sejak itu pulau nan unik ini terus dikunjungi oleh para petinggi Belanda (VOC) dan pengunjung dari benua Eropa untuk menikmati keindahan dan kekhasan pulau ini. Terlepas dari ketidak senangan kita terhadap penjajahan, tapi satu hal yang perlu kita catat dan kita patut berterima kasih adalah VOC memiliki visi yang sangat jelas dan jauh ke depan tentang pariwisata Bali dan untuk itu mereka telah membangun suatu landasan yang sangat kokoh bagi pembangunan pariwisata Bali yang berlandaskan budaya.

Di zaman kemerdekaan pemerintah pusat dan pemerintah daerah Bali memberi perhatian khusus bagi pengembangan pariwisata di pulau Dewata Bali dengan berlandaskan budaya. Masih teringat jelas dalam pikiran pernyataan Prof. Ida Bagus Mantra (alm), mantan Gubernur Bali, dalam sambutannya ketika membuka kursus/lokakarya “Manajemen Pariwisata” di Nusa Dua pada tahun 1981. Beliau menyatakan dengan tegas bahwa pembangunan pariwisata Bali tetap berlandaskan budaya Bali yang khas dan unik. Sebagai intelektual dan budayawan beliau memiliki pandangan dan visi yang sangat jauh ke depan. Menurut saya hal tersebut sangat tepat dan beralasan karena di kawasan lain di seantero nusantara bahkan di seantero dunia kita bisa menikmati keindahan alam laut, pantai, gunung, lembah, sungai, danau, air terjun, taman laut dan sebagainya sebagaimana kita temukan juga di pulau Bali. Tetapi kita tidak akan pernah melihat dan menikmati kekhasan dan keunikan budaya Bali di kawasan lain sebagaimana yang kita temukan di pula dewata Bali. lnilah dasar dan roh pembangunan pariwisata Bali yang harus terus dipertahankan, dilestarikan, dan dikembangkan.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan pariwisata Bali berwawasan budaya pada saat ini sudah mulai suram. Budaya Bali yang khas dan unik yang menjadi landasan dan roh pembangunan pariwisata Bali mulai kendur. Kendala utama di samping kesadaran masyarakat yang rendah juga faktor ekonomi dimana masyarakat berlomba-lomba memperkaya diri dengan berbagai cara tanpa mengindahkan norma-norma budaya dan adat istiadat. Salah satu contoh, dimana-mana muncul pembangunan hotel, villa, ruko yang tidak terkendali dengan berbagai arsitektur luar tanpa mengindahkan arsitektur Bali yang sarat dengan nilai seni dan budaya. Kalau kita berkeliling di Sekitar kawasan Kuta, Legian, Seminyak, dan sekitarnya kita menemukan berbagai bangunan dan ruko yang beraksitektur Eropa, seakan-akan kita berada di kawasan Eropa. Maka tidak salah apabila seorang turis Belanda menyatakan kekecewaannya ketika melihat kondisi Bali saat ini. Bahkan turis itu menyatakan untuk apa saya datang ke Bali kalau saya lihat seperti di Eropa.

Pertanyaannya adalah apakah pembangunan pariwisata Bali barat kacang lupa akan kulitnya? Kekhasan dan keunikan budaya Bali yang telah membesarkan dan mengharumkan pembangunan pariwisata Bali khususnya dari pembangunan daerah Bali pada umumnya mulai dilupakan orang. Untuk itu saya mengajak seluruh lapisan masyarakat baik pemerintah daerah selaku regulator, masyarakat penghuni Bali yang berdiam dan berbisnis di Bali (dan berbagai latar belakang suku, kepercayaan, adat istiadat) untuk bersama-sama secara moril dan materiil melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai budaya Bali sebagai landasan dan roh pembangunan pariwisata Bali.

Percayalah, tanpa budaya Bali selaku roh maka pembangunan pariwisata akan sia-sia dan ini akan sangat berdampak kepada usaha dan bisnis apapun yang kita lakukan di Bali. Ketegasan, kesadaran, toleransi, dan apresiasi kita yang tinggi terhadap pelestarian budaya Bali akan menjadi modal yang kuat bagi kesinambungan pariwisata Bali ke depan.

Apa yang telah dirintis dan diperjuangkan oleh VOC, serta para pemuka dan cendekiawan di pulau dewata wajib dteruskan oleh generasi penerus yang berbudaya luhur. Memang sungguh ironis manakala VOC selaku penjajah memiliki visi dan kepedulian yang tinggi untuk mempertahan dan melestarikan budaya Bali. Sementara kita selaku pemilik dan pewaris negeri ini tak memiliki visi dan kepedulian tersebut. Semoga kita tak menjadi batu sandungan mana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

This entry was posted on Thursday, December 10th, 2009 at 8:51 pm and is filed under Berita Bali, Budaya Bali, Obyek wisata Bali, Pernak-pernik Bali. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

Leave a Reply

Please insert the signs in the image: