Gamelan Bambu di Alam serba Bambu
Bunyi-bunyian yang terbuat dari bambu dapat dijumpai di berbagai penjuru jagat, sejak zaman primitive hingga kini. Demikian pula di Bali pemanfaatan bambu sebagai wahana bebunyian masih diteruskan hingga kini. Sebagian bentuk orkestra gamelan Bali tidak sedikit yang dibuat dari bambu. Namun tampaknya, gamelan yang berbahan tumbuhan purba itu, kini kalah saing dengan genre gamelan logam. Keteduhan dan kelembutan nada-nada gamelan bambu kian sayup-sayup.
Beruntung, sayup-sayup bunyi gamelan bambu itu masih mampu mengusik deru kehidupan masa kini. Di tengah bising lalu lintas di Jalan By pass Ida Bagus Mantra, di Ketewel, Sukawati, Gianyar. Lantunan gamelan bambu disuguhkan selama beberapa hari belum lama ini. Adalah Bentara Budaya Bali dalam perhelatan yang disebut “Festival Bambu” menyajikan enam bentuk seni pertunjukan yang memakai barungan (set gamelan) bambu yaitu Gambang, Jegog, Joged Pingitan, Gong Suling, Joged Bumbung dan Bumbang.
Sudah Menyatu
Sebelum mengkristal menjadi media estetik musical, bambu sebagai alat bunyi diduga telah menyatu dengan budaya agraris tradisional. Jejak-jejak keintiman musik bambu dengan masyarakat petani itu masih tersisa. Sunari, salah satunya, adalah sebatang bambu yang dilubangi yang bila disapa semilir angin menyanyikan sabda alam di tengah hamparan sawah. Prinsip bunyi dari hembusan angin itu juga dapat dilihat pada suling dan genggong. Alat musik bambu ini di masa lalu begitu akrab menemani suka duka para petani saat merawat tanamannya.
Para petani Bali juga memiliki alat musik bambu dalam wujud xylophone yang disebut terompong beruk. Instrumen yang dimainkan dengan sepasang panggul (alat pukul) ini bilah-bilahnya terbuat dari bambu, selain juga uyung (batang enau). Sedangkan penggema bunyinya memakai beruk (tempurung kelapa). Pada awalnya, trompong beruk adalah instrumen tunggal yang lazim ditempatkan di kubu (tempat istirahat) petani yang dalam perkembangannya ditambahkan dengan instrumen lain. Satu dua komunitas petani di kawasan Bali Timur kini masih menyisakan barungan gamelan ini.
Selain integral dengan budaya pertanian, musik bambu juga dihadirkan dalam ritual keagamaan. Gambang adalah gamelan bambu yang keberadaannya telah disebut-sebut dalam catatan-catatan tua, baik dalam wujud visual relief candi maupun abstraksi literer. Sayang, gamelan yang dimainkan dengan sepasang panggul bercabang dua ini kini semakin langka. Pengerawit yang peduli dengan gamelan bambu berlaras pelog tujuh nada ini hanya beberapa segelintir. Salah satu grup yang berhasil dihadirkan dalam “Festival Bambu” itu adalah kelompok gamelan Gambang Desa Telepud,Tegalalang, Gianyar.
Suaranya yang sendu dan romantis menggiring gamelan bambu lebih berkiprah pada arena interaksi kegairahan dan hiburan. Saat kejayaan zaman kerajaan di Bali, membiak berjenis-jenis tari pergaulan dengan iringan gamelan bambu. Joged Pingitan misalnya, adalah joged elit pingitan kaum bangsawan. Hanya tamu istiwewa raja yang boleh ngibing joged ini. Joged pribadi yang diduga berkaitan erat dengan budaya perseliran ini kemudian rontok di bawah kekangan kolonialisme. Di tengah masyarakat, seni pentas ini kemudian bertransformasi menjadi beberapa versi seperti Adar, Gudegan, Tongkohan dan Joged Bumbung. Kini, Joged Pingitan masih membekas di Banjar Pakuwudan (Sukawati) dan Banjar Ketapian (Denpasar) dalam sanggaan psikorelegi komunitasnya.
Di antara sekian turunan Joged Pingitan itu, tampak hanya Joged Bumbung yang kini tetap bergelinjang sarat gairah. Suara bumbung atau granting dari gamelan pengiring tari muda-mudi ini terdengar di seluruh penjuru Bali. Bahkan barungan grantang ini tak hanva tampak mengiringi lenggang tari pasangan wanita (penari) dan pria (pengibing) di arena pentas dalam konteks kepariwisataan juga banyak dipergoki di hotel dan restoran mengalunkan gending-gending lirih menemani tamu-tamu beristirahat atau makan. Libido manusia dan gaya kehidupan modern memberi peluang terhadap keberadaan gamelan Joged Bumbung.
Presentasi Estetik
Tentu saja spirit artistik kebudayaan adalah presentasi terpenting yang dicapai musik bambu. Gamelan Jegog misalnya yang pada awalnya dirawat sebagai media komunikasi sosial, belakangan didaulat sebagai presentasi estetik, baik dengan berorientasi dari seni tradisi hingga berkoloborasi dengan seni konteinporer seperti dicoba disuguhkan pada festival tersebut oleh grup Jegog Banjar Moding, Jembrana. Demikian pula eksplorasi dan kreativitas empu gamelan I Nyoman Rembang dengan gamelan Bumbang-nya (1985) adalah bagian dari perjalanan kultural bambu sebagai pengejawantah keindahan, menyela bumbu-bumbu kehidupan kekinian yang dihegemoni keindahan semu.
Gamelan bambu Bali tampaknya memang sedang berhadapan dengan hegemoni selera keindahan masyarakat kontenporernya. Sejak era pra-kemerdekaan, gamelan berbahan logam Gong Kebyar melaju kencang dan kini menjadi gamelan “wajib” dimiliki oleh setiap banjar atau desa. Kesenian lainnya, gamelan bambu khususnya, terdepak ke pinggir. Ada yang terjengkang menghilang dan ada pula yang istirahat mengatur nafas. Uluran tangan pemerintah lewat PKB, belum mampu memberdayakannya. Lembaga pendidikan formal kesenian juga belum serius menggarapnya. Karena itu, perlu digugah, dikobarkan, diberi ruang dan disambut penuh harap idealisme tulus semua pihak untuk mengaktualisasikan nilai keindahan dan menyelami makna kultural gamelan si buluh perindu ini.