Mengenal Gebug Ende, Warisan Perang Tentara Seraya, Darah Mengucur di Kepala Pertanda Segera Turun Hujan
Bila ada pemain Gebug Ende yang mengucurkan darah di bagian kepala, itu tandanya hujan segera tiba. Antara percaya tidak percaya, demikianlah keyakinan warga Seraya di karangasem dengan tradisi turun temurunnya ini.
Dalam perkembangannya, tradisi Gebug Ende mengalami sejumlah perubahan. Dulu, saat perang dengan Kerajaan Selaparang, para tentara Seraya menggunakan tombak dan senjata tajam. Namun kini, hal itu tidak berlaku lagi. Perangkat yang digunakan saat ini berupa tamian (tameng) yang terbuat dari anyaman bambu berlapis kulit sapi plus rotan yang digunakan sebagai alat pemukul. Kalau dulu, orang mau perang harus menjalani proses seleksi yang ketat. Mereka yang dipilih sebagai tentara adalah peserta sangkepan terpilih.
Antara percaya tidak percaya, seleksi yang dilakukan untuk memilih pasukan perang cukup terdengar sadis. Proses seleksi dilakukan saat sangkep berlangsung di Bale Agung. Pesertanya wajib membawa pandan berduri dan diselipkan di bagian ketiaknya. Saat masuk Bale Agung, pandan yang ada di ketiaknya itu ditarik. Mereka yang tidak mengalami luka boleh ikut sangkep dan menjadi tentara. Sementara yang luka, dilarang ikut sangkep apalagi ikut perang.
Begitu halnya dengan proses memilih senjata. Ada cara unik yang dilakukan kala itu. Senjata yang hendak dipakai berperang harus melewati tes di pelinggih Pura Puseh desa setempat. Ada satu tiang pelinggih yang dijadikan alat untuk mengetes. Di sana senjata itu ditancapkan untuk diuji. Kalau patah atau tumpul, sudah pasti dibuang. Yang masih tajam, itu yang dipakai. Karena warga percaya, senjata ini sudah dianugerahi oleh Ida Betara Dewa Gede Kekangin yang disungsung warga.
Itu gambaran saat tentara Seraya hendak berangkat perang. Namun, setibanya kembali ke desa dan memainkan Gebug Ende, senjata tajam itu tak lagi dipakai. Mereka menggantinya dengan rotan dan tamiang. Dan sampai sekarang perangkat tersebut masih dipakai sebagai sarana permainan Gebug Ende. Sekalipun alat pukul yang dipakai sudah diganti, bukan berarti pemainya tak akan merasakan sakit. Pukulan rotan terkadang menimbulkan luka memar pada bagian tubuh pemainnya.
Biasanya akan terlihat dengan warna biru yang memanjang. Kalau memang pukulannya begitu keras. Namun, selama ini tidak ada yang mengeluh sakit, justru mereka tambah semangat bermain. Mungkin karena sugesti yang mereka dengar dari bunyi gamelan. Satu lagi keyakinan yang terdengar menyeramkan. Warga karangasem yang ada di desa seraya ini yakin, kalau ada salah seorang pemain yang bagian kepalanya kena pukulan rotan dan mengeluarkan darah hingga menetes ke tanah, itu artinya tak lama lagi hujan akan turun.